Ada sebuah ungkapan tentang metafora dinamika sosial yang terbaca di pinggiran jalan sebuah kota. Kurang lebih berbunyi seperti ini “Jangan biarkan matahari berlalu tanpa makna”. Kalimat tersebut sangat kontemplatif dan bernuansa pesan moral yang mendalam bagi yang merenunginya dalam skala orientasi cara berpikir yang tidak awam, sederhanya adalah bisa dikontekskan dalam teks yang berbeda yaitu apa saja yang sudah anda kerjakan hari ini?. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah itu bermanfaat dan menyenangkan?. Sayangnya, kalimat yang pernah disadur kembali ke media sosial micro blogging (twitter) tersebut oleh seorang teman diteruskan sebagai “fiksi mini”. Entahlah..

Begitu banyak cerita tentang ragam budaya dan bahasa yang ada di suatu wilayah. Sebut saja Indonesia yang telah terlanjur terkenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki ribuan suku, adat istiadat, bahasa, kesenian, dan juga kearifan lokal yang unik satu sama lainnya. Jika berbicara dalam konteks keragaman tentu saja yang pertama kali terlintas adalah Bhineka Tunggal Ika!. Iya, siapa yang tak mengenal “mantra” sakti itu??. Hanya saja “mantra” hanyalah “mantra”, jika tidak dapat diaplikasikan pada ruang dan tempat yang tepat. Pernahkah terbayang untuk tidak menjadi bagian yang “berbeda” dari apa yang terlihat?. Rasanya ini pertanyaan yang sulit untuk dijawab, meskipun kita semua selalu mengedepankan sifat dan terkadang cenderung menjadi Primodial(isme) yang manifest satu sama lain.

Konstitusi dalam bahasa “Simulasi”

Praktik konstitusi hampir jauh dari terminologi berhasil, jika saja tidak ingin dikatakan gagal. Tidak perlu melihat ke televisi ataupun membaca Koran untuk konteks yang satu ini. Silahkan amati apa yang terlihat di sekitar, masih banyak yang belum “bebas” dari kesengsaraan yang secara struktural dan kulutural sengaja dikonsepkan dengan rapi sebagai bagian dari obyek pembangunan.

Masih sulit rasanya mencari referensi yang tepat untuk mengatakan bahwa kita berada dalam ruang yang berbeda yaitu “timur”, “tengah”, dan “Barat”. Dan siapakah gerangan yang pertama kali mencetuskan konsepsi banal tersebut. Jika syarat konsepsi tersebut pada akhirnya bermuara pada pembedaan yang secara nyata terjadi dalam konteks kehidupan keseharian, sudah sepatutnya mengatakan bahwa kita semua berbeda. Yang terkadang membuat kita sama adalah persepsi dan masalah selera saja, selain CINTA, tentunya. Atau mungkin masih belajar beradaptasi dalam konteks keragaman yang terkadang membuatmu teralienasi dalam konsepsi Marx dan selalu saja terjadi perbincangan tersembunyi yang sejauh ini masih bersifat laten dan membuatmu terasa seperti berada dalam konteks Panoptikon seorang Michel Foucault??.

Dimensi abad 18 dan 19 memunculkan beberapa konsepsi berpikir yang menjadi sangat fenomenal sampai sekarang. Sebut saja konsep Orientalisme seorang Edward Said yang sampai hari ini menjadi referensi utama dalam memaknai “Timur” dalam definisi yang murni dan jauh dari sikap membelenggu diri dari kehidupan sosial. Konsepsi global yang mengharuskan adanya penyeragaman (homogenisasi),dominasi, dan juga standarisasi harus dibendung dengan pemahaman yang utuh, memperkaya pola berpikir dan informasi yang akurat tentang hal yang sedang terjadi. Rasanya tidak ada modul manual yang lebih hebat selain daripada konsep toleransi satu sama lain seperti yang diajarkan oleh para filsuf besar dari Yunani dan Romawi Kuno. Kita tidak perlu menunggu matahari terbit dari sebelah barat untuk menjadi lebih bijak dalam memaknai perbedaan.

Advertisements