Pak Tua Antonio biasa berkata bahwa bumbu-bumbu yang dibutuhkan untuk memanggang roti yang kita sebut hari esok itu ada banyak.

“Salah satunya adalah rasa sakit,” tambah Pak Tua Antonio sekarang, sembari ia menumpuk kayubakar di samping pendiangan.

 

Kata.jpg.jpg
(Ilustrasi, Foto: Istimewa)

 

Kami keluar menuju senja, menggigil seusai hujan yang biasa dipakai bulan Juli untuk melabur hijau bumi ini. Dona Juanita tetap tinggal, menyiapkan roti jagung manis yang disekitar sini mereka sebut marquesote, gumpalannya terbentuk dari Loyang masaknya yang terbuat dari kaleng sarden.
Aku tidak tahu berapa lama Pak Tua Antonio dan Dona Juanita telah hidup bersama, dan aku tak pernah Tanya. Hari ini, di senja rimba ini, Pak Tua Antonio bicara tentang rasa sakit sebagai bumbu harapan, dan Dona Juanita memanggang buatnya seloyang roti untuk membuktikannya.
Selama beberapa malam, penyakit telah mengganggu tidur Dona Juanita, dan Pak Tua Antonio yang tidak tidur karena setia padanya, melegakan rasa sakitnya dengan dongeng dan permainan-permainan. Subuh pagi tadi, Pak Tua Antonio memeragakan pertunjukan megah: Dengan memain-mainkan tangannya dan cahaya tungku, ia ciptakan aneka macam wayang serta satwa-satwa hutan. Dona Juanita tertawa melihat tepescuintle pejalan malam, rusa ekor putih yang tak kenal lelah, monyet pelolong, merak yang angkuh, dan kakatua cerewet yang dilukis Pak Tua Antonio di kampas gubuknya.
“Aku tidak sembuh, tapi banyak tertawa,”Dona Juanita memberitahuku. “Aku tidak tahu baying-bayang itu begitu bahagia.”
Sore itu Dona Juanita memanggang marquesote buat Pak Tua Antonio, bukan untuk berterimakasih atas pengobatan sia-sia sepanjang malam penuh baying-bayang kocak. Dan ia tidak memanggangnya untuk membuat Pak Tua Antonio berbahagia pula…Ia memanggangnya sebagai bukti bahwa rasa sakit yang dipikul bersama bisa membawa rasa lega dan menghamparkan bayangan bahagia. Itu sebabnya Dona Juanita memanggang roti-roti yang dilahirkan oleh tangannya dan kayu bakar Pak Tua Antonio didalam kaleng sarden kuno.
Agar tidak percuma, kami santap rasa sakit yang dipikul bersama oleh Dona Juanita dan Pak Tua Antonio dengan kopi panas, kami santap rasa sakit yang berubah jadi roti dan terang yang dibagi bersama itu…

 

 Sumber: Buku: Kata Adalah Senjata, hal.292.
Advertisements