Menjelang perayaan lebaran selalu ada fenomena yang menarik di tanah air, Indonesia. Mudik!. Istilah ini sangat lekat dengan mereka yang melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman atau daerah asal. Para pelaku ini biasanya disebut sebagai (pem)udik. Secara umum, pelaku aktif dalam ritual tahunan ini adalah para pekerja dan pelajar yang telah menghabiskan waktu beberapa bulan dan tahun di tanah perantauan. Selalu ada cerita yang menarik disetiap momen perjumpaan dengan teman-teman lama dan keluarga. Berbagi cerita kesuksesan, pengalaman, dan bahkan tidak sedikit yang menebar pesona agar memperoleh pengakuan dari orang lain tentang hal-hal yang telah dicapai selama periodenya merantau. Saya kira itu semua normal, unik, menyenangkan, dan mungkin nantinya perlahan menjadi tidak menarik ketika esensi yang dihadirkan hanya tentang keakuan, pamer ini itu dan mendominasi sebuah obrolan. Aku kira berjumpa dengan keluarga dan berbagi kasih cerita di dalam rumah yang penuh dengan kemegahan romansa masa kecil terasa lebih menyenangkan daripada tebar pesona tadi.

Melakukan mudik ke kampung halaman mungkin bisa dikatakan telah menjadi tradisi di Indonesia. Bahkan beberapa orang berani membayar mahal untuk mudik. Misalnya dengan membeli tiket perjalanan, yang harganya tentu saja tidak murah. Terlebih menjelang perayaan lebaran. Diluar itu semua, ada satu hal yang unik perihal mudik. Berbelanja pakaian yang baru, sepatu baru, dan mungkin saja hal-hal lain yang bukan sebuah kebutuhan, telah juga ikut menjadi tradisi dan menjadi satu paket menjelang lebaran. Tidak ada salahnya memang. Semuanya normal dan sekaligus menarik. Menghabiskan rupiah dengan berbelanja tentu saja akan menghadirkan kepuasan tersendiri. Terlebih jika uang yang diperoleh adalah hasil dari jerih payah dan kerja keras sendiri. Poin yang terakhir ini biasanya menjadi alasan untuk beberapa orang yang siap menciptakan kebahagiaan. Setidaknya bagi diri sendiri.

Banyak sekali petuah bijak dan bermanfaat yang bisa diperoleh saat momen silaturahmi bersama keluarga dan teman-teman. Sudah sepatutnya modal sosial tersebut bisa dimaksimalkan. Bukan saja hanya tentang cerita kesuksesan,namun juga tentang jangkauan kesuksesan yang diperoleh tersebut bisa bermanfaat bagi orang lain.

Kembali mengenai belanja tadi. Secara teroritis dan (mungkin) secara psikologis, alasan dasar berbelanja adalah tentang mengejar kebutuhan dan keinginan. Dua terminologi tersebut, tentu saja memiliki makna yang berbeda. Ada orang yang berbelanja karena benar-benar membutuhkan sebuah barang karena nilai fungsi sekaligus kegunaannya bisa segera dimanfaatkan. Disisi lain, ada juga orang yang berbelanja hanya sekedar ingin mengejar hasrat untuk berbelanja. Secara sederhana, mengesampingkan prioritas nilai fungsi dan kegunaan sebuah barang. Mungkin yang disebutkan terakhir, masuk dalam definisi berbelanja atas dasar keinginan.

Maslow dan Perihal Berbelanja

Fenomena sosial seperti berbelanja, mudik, dan pulang kampung menjadi hal yang sangat menarik. Beberapa perspektif mengenai hal tersebut mungkin saja sudah banyak ditulis. Terlebih di era modern seperti sekarang, setiap hari lalu lintas informasi begitu cepat terjadi.  Dan Abrahan Maslow, berbicara tentang kebutuhan yang ada pada manusia. Sebagai mahluk sosial, manusia tidak pernah lepas dari kebutuhan yang bersifat primer, sekunder, dan tersier. Dalam persepektif Maslow, kebutuhan manusia dibagi menjadi lima.

  1.  Kebutuhan Fisiologis

Ini adalah kebutuhan biologis. Mereka terdiri dari kebutuhan oksigen, makanan, air, dan suhu tubuh relatif konstan. Mereka adalah kebutuhan kuat karena jika seseorang tidak diberi semua kebutuhan, fisiologis yang akan datang pertama dalam pencarian seseorang untuk kepuasan.

  1.  Kebutuhan Keamanan

Ketika semua kebutuhan fisiologis puas dan tidak mengendalikan pikiran lagi dan perilaku, kebutuhan keamanan dapat menjadi aktif. Orang dewasa memiliki sedikit kesadaran keamanan kecuali pada saat darurat atau periode disorganisasi dalam struktur sosial (seperti kerusuhan luas). Anak-anak sering menampilkan tanda-tanda rasa tidak aman dan perlu aman.

  1.  Kebutuhan Cinta, sayang dan kepemilikan

Ketika kebutuhan untuk keselamatan dan kesejahteraan fisiologis puas, kelas berikutnya kebutuhan untuk cinta, sayang dan kepemilikan dapat muncul. Maslow menyatakan bahwa orang mencari untuk mengatasi perasaan kesepian dan keterasingan. Ini melibatkan keduanya dan menerima cinta, kasih sayang dan memberikan rasa memiliki.

  1.  Kebutuhan Esteem

Ketika tiga kelas pertama kebutuhan dipenuhi, kebutuhan untuk harga diri bisa menjadi dominan. Ini melibatkan kebutuhan baik harga diri dan untuk seseorang mendapat penghargaan dari orang lain. Manusia memiliki kebutuhan untuk tegas, berdasarkan, tingkat tinggi stabil diri, dan rasa hormat dari orang lain. Ketika kebutuhan ini terpenuhi, orang merasa percaya diri dan berharga sebagai orang di dunia. Ketika kebutuhan frustrasi, orang merasa rendah, lemah, tak berdaya dan tidak berharga.

  1.  Kebutuhan Aktualisasi Diri

Ketika semua kebutuhan di atas terpenuhi, maka dan hanya maka adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri diaktifkan. Maslow menggambarkan aktualisasi diri sebagai orang perlu untuk menjadi dan melakukan apa yang orang itu “lahir untuk dilakukan.” “Seorang musisi harus bermusik, seniman harus melukis, dan penyair harus menulis.” Kebutuhan ini membuat diri mereka merasa dalam tanda-tanda kegelisahan. Orang itu merasa di tepi, tegang, kurang sesuatu, singkatnya, gelisah. Jika seseorang lapar, tidak aman, tidak dicintai atau diterima, atau kurang harga diri, sangat mudah untuk mengetahui apa orang itu gelisah. Hal ini tidak selalu jelas apa yang seseorang ingin ketika ada kebutuhan untuk aktualisasi diri.
Lima gagasan Maslow sangat relevan dengan kondisi dinamika sosial sebuah kota ataupun desa.

Advertisements