Tidak ada perayaan khusus untuk menyambut tahun baru Masehi. Semuanya sama saja. Tafsir manusia lah yang membuat sesuatu menjadi terlihat dan terdengar istimewa. Begitu yang saya ingat petuah dari penulis besar, Pramoedya Ananta Toer.

Pengujung 2016, awal 2017 dan salju yang tak kunjung turun adalah satu diantara beberapa cerita yang hadir. Sisanya, tentu saja perihal studi yang harus segera dituntaskan, naskah buku yang tidak kunjung selesai, jurnal-jurnal yang harus segera dibaca dan melawan rasa malas untuk mengeksekusinya menjadi tulisan.

waktu2.jpg
(Ilustrasi, Foto: https://commons.wikimedia.org)

Tidak ketiinggalan adalah beberapa memori yang selalu muncul ketika insomnia kambuh. salah satunya adalah tentang perpustakaan di rumah yang semua koleksi bukunya telah terendam oleh banjir.

Saya terkadang terbawa suasana dan larut dalam semuanya. Bagi saya, buku adalah kawan disaat semuanya pergi dan sepi menjadi pelengkap untuk membunuh memori yang tidak bisa diajak kompromi. Bahkan, tak jarang itu juga menjadi inspirasi untuk melanjutkan hal-hal positif lainnya.

Dua tahun ini, saya belajar secara otodidak perihal pemberdayaan komunitas dan membangun jaringan dengan beberapa kawan di Indonesia. Dan mungkin ini yang akan saya aplikasikan kelak setelah lulus dan kembali ke Indonesia.

Saya terus mengasah kemampuan menulis dan memperbanyak bacaan. Ini semua dilakukan untuk menyenangkan diri sendiri dan sesekali mengobati rasa penat dengan melakukan perjalanan.

Tahun berganti, dan waktu tak pernah berputar kembali. Semoga semuanya dimudahkan.

Esok pasti jumpa.

Istanbul, 1 Januari 2017

Advertisements