Inter Milan.Chiapas.jpg
(Kunjungan Inter Milan ke Chiapas. Foto: http://www.intermilan.it)

 

I

Sepekan yang lalu tim sepakbola kesayangan saya, Inter Milan, menutup musim kompetisi Serie-A 2016/2017 dengan kemenangan 5-2 atas Udinese. Dengan hasil tersebut, Inter Milan berada pada tangga ke-tujuh klasemen akhir. Tentunya, statistik ini bukanlah kabar yang menyenangkan. Terlebih tim besar ini memiliki basis fans yang sangat banyak di seluruh dunia. Salah satunya di Indonesia.

Saya mengagumi tim ini sudah cukup lama. Seingat memori saya, momen berseragam putih biru adalah saat dimana saya mengenal tim ini. Deret waktu pun berlalu. Seperti halnya kawan-kawan yang lainnya, saya ikut larut dan perlahan mulai menekuni sepakbola. Hingga masuk ke perguruan tinggi, saya masih mengagumi dan intensif bermain sepakbola. Akan tetapi, ada suatu waktu yang membuat saya untuk mengurangi jam bermain sepakbola. Selain karena kesibukan studi dan lainnya. Akhirnya, saya lebih memilih untuk bermain futsal. Dan sepakbola tetap menjadi olahraga favorit lewat layar kaca saja.

Berjumpa dengan beberapa kawan lama adalah hal yang menyenangkan. Ada banyak cerita yang bisa membuat obrolan semakin seru, mencair dan terkadang sedikit tegang. Dan topik tentang tim sepakbola favorit masing-masing adalah yang bisa menyulut obrolan tersebut.

Kawan-kawan saya memiliki alasan personal mengapa mereka menyukai tim favoritnya. Secara umum, sebenarnya sangat bisa ditebak. Gelar juara liga domestik, pemain legendaris, transfer yang mahal, pencapaian gelar level Eropa, treble winners, double winners atau yang ini, karena pemainnya keren! Secara denotatif, terma ini merujuk kepada penampilan dan gaya hidup para bintang rumput hijau.

Awalnya, saya juga berada pada level yang sama dengan kawan-kawan yang lain. Berdebat perihal skor pertandingan, wasit yang memihak pada salah satu tim, konspirasi pengaturan skor pertandingan hingga pada kemenangan dan gelar juara yang diraih oleh tim kesayangan. Akan tetapi, ada satu momen yang membuat saya berpikir dan mencari hal lain yang sekiranya berada di luar obrolan major tersebut. Dan momen itu pun tiba ketika saya merantau.

Saya tidak mengingat persis kapan saya membeli buku ‘Kata Adalah Senjata’. Saya hanya mengingat saat itu masih studi strata satu di Kota Malang. Dan akhirnya saya menemukan satu catatan penting yang mencantumkan Inter Milan di dalamnya. Agar lebih jelasnya, saya salinkan secara utuh catatan tersebut di bawah ini:

‘Bintang Sepakbola Mendukung Gerilywan’

Sophie Arie (Roma) dan Jo Tuckman (Mexico City)

The Guardian, Selasa, 19 Oktober 2004

Klub-klub sepakbola telah terkenal dalam menunjukkan sisi manis mereka, menderma kaum papa serta membantu yang sakit dan yang cacat. Tapi tidak sering ada klub terkemuka Eropa menyerahkan kaus dan uang kontan kepada sepasukan tentara gerilya bertopeng yang menuntut otonomi di negeri mereka.

Inter Milan telah menyumbangkan 5.000 euro, sebuah ambulans, dan kaus biru no.4 milik kapten kesebelasannya kepada salah satu kantung tentara Zapatista dalam sebuah aksi solidaritas bagi penduduk adat Chiapas di Meksiko Tenggara.

Bintang Argentina Javier Zanetti, sang kapten kesebelasan, mengajak klubnya menyumbangkan denda kamar ganti mereka atas keterlambatan datang atau memakai ponsel guna membantu penduduk sesudah Desa Zinacantan diserang oleh pasukan militer pemerintah pada Bulan April. “Kami percaya akan dunia yang lebih baik, sebuah dunia yang tidak mengglobal, yang diperkaya oleh perbedaan budaya dan adat-istiadat seluruh masyarakat. İtu sebabnya kami menyokong kalian dalam perjuangan untuk mempertahankan akar dan bertempuh demi ideal-ideal kalian”, tulis Zanetti dalam sebuah surat untuk desa tersebut, yang dikirim bersama sumbangan awal 2.500 euro.

“Kami tahu kami tidak sendirian dalam perjuangan ini,” balasan dari pendukung Zapatista yang mengundang tim sepakbola Italia itu untuk mengunjungi mereka di hutan pegunungan Chiapas.

Kantor kepresidenan Meksiko yang menangani urusan Zapatista kemarin menyatakan tidak akan berkomentar mengenai sumbangan Italia ini.

Bulan Juni, Bruto Bartolozzi, manajer Inter, tiba di Caracol Oventik dengan sumbngan susulan serta restu dari tim dan baron minyak pemiliknya, Massimo Moratti. Sumbangan ini turut membantu warga desa dalam membangun kembali rumah-rumah dan saluran airnya. Selain itu, klub juga menawarkan memasok perlengkapan sepakbola berikut bolanya bagi para pesepakbola Zapatista yang sedang mekar dewasa. “Tim kami bukan cuma main Play Station dan komputer,” kata Bartolozzi. “Kami baca koran di Meksiko soal serangan ini. Kami ingin menolong. Bukan dengan uang sejumlah besar melainkan dengan dukungan yang berkelanjutan.”

Pemimpin Zapatista Subcomandante Marcos dilaporkan telah menyatakan penghargaannya dalam sebuah komunike internet yang dilampiri foto dirinya mengacungkan kaus kapten Inter Milan. “Saudara saudari dari tim Italia, kusampaikan sukses terbesar dalam aksi olahraga kalian,” demikian bunyi surat itu.

Harapan akan solusi konflik sempat melambung ketika pemerintahan Vicente Fox terpilih tahun 2000, tapi Marcis memutuskan hubungan dengan pemerintah hanya sekian bulan setelah parlemen memelintir reformasi konstitusional mengenai hak-hak adat yang dituntut oleh Zapatista.

Tulisan ini diterjemahakn dari The Guardian.

———–

Secara personal, tulisan di atas merubah total cara pandang saya terhadap sepakbola sekaligus mengajarkan bagaimana mencintai tim sepakbola. Ringkas hingga hari ini, momen itu masih membekas, berlanjut dan membuat saya untuk tidak terlalu merespon secara berlebihan ketika ada kawan yang berdialog tentang sepakbola. Saya selalu berusaha menjadi pembelajar dan pendengar yang baik, terutama kepada orang-orang baru.

II

Kemarin siang, saya menyusuri satu distrik di Istanbul. Jalanan yang ramai, lalu-lalang roda empat pabrikan Eropa memenuhi lajur dua arah yang bergantian menghantam aspal hitam yang panas. Saya sengaja memilih berjalan kaki ke arah lokasi buka puasa bersama pelajar dan warga negara Indonesia yang ada di Istanbul.

Jam di tangan menunjukkan pukul lima siang. Saya berusaha mengamati setiap sudut jalan yang saya susuri. Beberapa pekerja rumah makan mulai menata meja, kursi dan kelengkapan lainnya untuk menyambut buka puasa yang berdurasi 17 jam. Ada juga yang membersihkan lantai dan menyapu taman. Satu potret yang tentu saja tidak membuat saya kaget adalah ketika dengan sangat mudah melihat orang-orang menyantap roti, meminum teh dan membakar tembakau di ruang terbuka saat Ramadhan tiba. Persis di taman lajur kanan tempat saya berjalan, dua meja sedang diisi oleh empat orang. Mereka terlihat sangat menikmati santapan yang mereka pesan dari rumah makan yang berlokasi tidak jauh dari sana.

Lajur kiri menyediakan etalase yang berbeda. Beberapa barang dagangan sedang ditata dengan harga yang sangat terjangkau. Kesibukan dan terik siang itu membawa saya untuk melanjutkan perjalanan menuju sebuah masjid. Saya membasuh wajah agar lebih segar. Sebelum akhirnya melaksanakan ibadah shalat di masjid Eyup, Istanbul.

Tiba di lokasi buka puasa, ternyata sudah cukup ramai. Tegur sapa dan berjabat tangan adalah hal yang biasa dilakukan. Obrolan seputar apa saja mengalir sembari menunggu azan Magrib berkumandang. Seorang kawan menyapa dari jarak yang tidak terlalu jauh dan mengajak mendekat. Ia menyampaikan bahwa malam ini ada acara nonton bareng final Liga Champions. Saya merespon dengan mengatakan akan ikut. Dua tim yang masuk ke babak final adalah Juventus dan Real Madrid. Seturut dengan itu, saya lebih condong untuk mendukung Real Madrid daripada Juventus. Meskipun sang Nyonya Tua (julukan Juventus) adalah tim dari Italia. Sebagai penggemar Inter Milan, tentu saja saya tidak akan mendukung rivalnya. Persis ketika kawan yang berteriak di sebelah saya, yang tidak akan pernah mendukung Real Madrid karena ia adalah fans Barcelona.

Ada satu kutipan yang menarik dan perlu menjadi renungan. Kurang lebih seperti ini “sepakbola pada dasarnya merupakan pemulusan jalan bagi komersialisasi penggemar sepakbola, dari zaman ke zaman” (Ucok).

III

5 Mei 2017, saya mendapatkan satu pesan elektronik. Ternyata itu adalah notif dari sebuah majalan elektronik yang saya ikuti. Di dalam bus, saya tertarik untuk segera membacanya. Judulnya adalah Zapatista Community Welcomes Inter Campus Mexico.

Sekali lagi, Inter Milan melakukan hal yang membuat saya semakin terharu dan hormat dengan tim ini. Ditengah terpaan bisnis sepakbola yang semakin membesar, Inter Milan justru mengambil langkah yang melampaui makna sepakbola itu sendiri sebagai sebuah permainan kolektifitas atau mungkin gaya hidup.

Kunjungan Inter Milan ke Chiapas pada penghujung April lalu, menggambarkan kepedulian sosial tim biru hitam ini kepada perjuangan dan masalah kemanusiaan yang ada di salah satu distrik di Meksiko tersebut. Dalam lawatannya, Inter Milan membantu pendidikan di Chiapas dan turut menjaga pelestarian nilai dan tradisi lokal yang ada di sana.

Pihak Inter merasa sangat senang bisa membantu dan berkunjung ke sana. Dalam rilisnya, “when it was time to say goodbye, there was no better place to end our visit to Chiapas than the Caracol. This is a place where the community is fighting for democracy, for liberty, for justice. All of the schools invited to the farewell ceremony had been asked to produce a contribution, be that poetry, music or traditional singing and dancing. We couldn’t help but get into the spirit of things in the brightly colored and packed-out assembly hall.”

Tadi malam, Real Madrid meraih kemenangan telak 4-1 atas Juventus di laga final Liga Champions. Semua orang bergembira, kecuali para penggemar Juventini dan yang tidak mengagumi Real Madrid. Banyak sejarah yang tercatat dalam pertandingan tersebut. Zidane, yang kini menjadi pelatih di Real Madrid menunjukkan kelasnya melalui pengalaman yang telah ia dapatkan. Mungkin banyak sekali ulasan yang menarik di luar sana tentang pertandingan semalam. Seutuh komentator sepakbola yang selalu menarik dengan terma dan diksi yang mereka sampaikan kepada para pemain ketika berkonsentrasi penuh selama 90 menit.

Rentetan gelar yang telah diperoleh Inter Milan membuat saya berpikir dan memilih untuk merayakan sepakbola dalam cara yang berbeda. Mengikuti perkembangan beritanya di kanal Inter Milan terutama yang berkaitan dengan aksi kemanusiaan yang semoga saja akan terus dan konsisten dilakukan.

Ucok, seniman yang saya kagumi lewat karya-karyanya, dalam salah satu catatannya tentang sepakbola meringkas apa yang ditulis oleh Zen di ‘Simulakra Sepakbola’ bahwa hidup berlangsung bukan dari waktu ke waktu, namun dari suasana ke suasana (Demi Masa).

 

İnter Milan Ramadhan.jpeg
(Inter Milan menyapa muslim untuk menyambut Ramadhan. Foto: instagram @inter )

 

Istanbul, 4.6.2017

Advertisements