Rasanya bukan kebetulan semata jika bulan Ramadhan (Ramazan—bahasa Turki) selalu hadir di tiap musim panas. Selain sebagai sebuah momentum untuk melatih diri, tentu saja Ramazan memberikan berkah bagi muslim yang menyambutnya dengan rasa bahagia dan merayakannya lewat ibadah-ibadah sunah dan wajib.

Kota Istanbul selalu menyajikan suasana yang sedikit berbeda jika bulan Ramazan tiba. Setidaknya ada empat masjid besar yang memiliki daya tarik bagi para jamaah. Diantaranya adalah Masjid Eyüp (satu-satunya masjid yang buka 24 jam di bulan Ramazan), masjid Sultanahmet, Masjid Fatih dan Masjid Suleymaniye. Keempat masjid tersebut merupakan sentral berkumpulnya para jamaah untuk berbuka puasa bersama dan melaksanakan shalat Taraweh.

 

ramazan.jpg
(Ramazan 2017. foto: Sabah)

 

Berbeda dengan yang biasa terjadi di Indonesia, penetapan awal puasa dan Idul Fitri di Turki sudah ditetapkan oleh pemerintah melalui Departemen Agama (Diyanet Bakanlığı). Dan keputusan ini juga selalu mencakup dengan penetapan malam Lailatul Qadar (Kadir Gecesi) yang diyakini datang pada setiap tanggal 27 Ramadhan. Untuk merayakan malam mulia tersebut, biasanya rakyat Turki berbondong-bondong menuju ke Masjid untuk beribadah sembari mengucapkan “Kadir geceniz mübarek olsun. Dualarda buluşalım” (selamat malam Laitlatul Qadar yang diberkati. Kita berjumpa dalam do’a).

Selain hal-hal di atas, masyarakat Turki juga biasanya berziarah ke makam Fatih Sultan Mehmet, makam sahabat Rasulullah Abu Ayyup al-Ansari, makam Kanuni Sultan Süleyman atau hanya sekedar berbagi cerita sembari menunggu waktu berbuka puasa tiba. Meydan (square) adalah lokasi utama yang sering digunakan sebagai tempat berbuka puasa lengkap dengan meja dan hidangan sederhana yang disediakan oleh pemerintah lokal dan didistribusikan oleh panitia Ramazan.

Sebagai perbandingan dengan di tanah air, pada bulan Ramazan, rumah makan ataupun restoran di Turki tetap buka seperti hari-hari biasanya. Namun demikian, tidak ada penentangan dari masyarakat lokal ataupun himbauan khusus dari pemerintah. Memang, ada beberapa warung yang sengaja tutup selama Ramazan. Akan tetapi, jumlahnya sangat sedikit. Dan salah satu tradisi di hari pertama dan terakhir Ramazan khususnya di Istanbul yang menyita perhatian publik adalah untuk mengunjungi makam Oruç Baba. Ada dua versi cerita yang beredar perihal sosok Oruç Baba. Versi pertama mengatakan bahwa ia adalah seorang pengikut sufi yang sangat kafir, sehingga sahur dan iftar (berbuka puasa) hanya dengan sepotong roti yang basi dengan lauk cuka. Sedangkan versi lainnya menyatakan bahwa Oruç Baba (Oruç—puasa) adalah seorang serdadu dari Sultan Mehmet Al-Fatih—penakluk Konstantinopel yang pada tahun 1453 bertugas membagikan air dan makanan kepada para prajurit yang ikut berperang. Pada hari pertama dan terakhir Ramazan, makam Oruç Baba selalu ramai dikunjungi oleh mereka yang mengharap keberkahan dengan saling berbagi roti saat waktu buka puasa tiba dan membacakan Al-Fatihah untuk Oruç Baba.

Semangat Bersolidaritas

Pesan-pesan persaudaraan terus digaungkan oleh pemerintah di Turki selama Ramazan tiba. Dua pesan yang sangat menarik adalah perihal menjaga solidaritas (Dayanışma) dan Coşkunluk (rasa antusias–enthusiasm). Masyarakat Turki dikenal sangat cömert (dermawan), baik kepada sesama warga Turki maupun kepada para pendatang. Saat Ramazan tiba, masyarakat Turki meyakini bahwa mengajak orang lain untuk berbuka puasa di rumah mereka akan membawa keberkahan. Mereka meresapi ada 10 pintu keberkahan yang dibawa oleh tamu (mişafir). Dan orang Turki senantiasa mempraktikan dengan memuliakan tamunya untuk memperoleh keberkahan tersebut. 9 dari 10 keberkahan yang dibawa oleh tamu tersebut akan ditinggalkan di rumah sang tuan rumah. Sedangkan satu keberkahan akan melekat dan dibawa oleh tamu itu sendiri. Semangat kedermawanan inilah yang membuat pesan Ramazan Çoskunluk ve birlik (persatuan) semakin terasa diantara sesama muslim.

Hilman Latief dalam disertasinya, Charities and Social Activism menyampaikan bahwa, “solidarity (solidaritie) implies having a firm grasp of social unity. It is closely related to fraternite, under which concept of the solidarity of a community is embedded. Originally ‘civic friendship’, it has evolved to encompass the idea of a global community (Hauke Brunkorst, Solidarity: from Civic Friendship to a Global Legal Community, 1-4), and so the notion of solidarity has also shaped and characterized Islamic communities throughout the world (264). Hal ini hampir memiliki kesamaan dengan semangat yang coba dibangun oleh masyarakat Turki. Setidaknya ada empat hal yang sampai hari ini menjadi program penguatan nasionalisme dan solidaritas Turki. Pertama adalah semboyan tek millet (satu bangsa), tek bayrak (satu bendera), tek vatan (satu tanah air), dan tek devlet (satu tanah air). Catatan personal saya perihal solidaritas Turki.

Ramazan adalah momentum untuk kembali membuka persaudaraan, meningkatkan rasa toleransi dan menjaga solidaritas Semoga semangat Ramazan mampu meresapi dan menginspirasi kita semua.

Advertisements