Rally in Turkey.jpg
(Kampanye di Turki/Foto: abc.net.au)

“egemenlik kayıtsız şartsız milletindir” (Mustafa Kemal Atatürk, 1881-1938)

Kalimat di atas merupakan pesan bapak pendiri Republik Turki modern, Atatürk, yang berarti Kedaulatan adalah sepenuhnya milik rakyat. Geloranya, tentu saja masih sangat relevan hingg hari ini dan menjadi rujukan untuk mengafirmasi keputusan dan peristiwa politik. Seturut dengan hal tersebut, sebuah pesta demokrasi terbesar sekaligus tonggak sejarah baru akan segera dihelat pada 24 Juni 2018 di Turki. Esok lusa, sekitar 80 juta rakyat Turki akan menunggu momen terbaik dalam perjalanan usia republiknya.

Sebanyak enam calon presiden (Cumhurbaşkan adayı) akan berkompetisi untuk merebutkan kursi nomor satu di negara bekas Kesultanan Usmani tersebut. Bahkan, pesta demokrasi tahun ini menjadi kontestasi dan arena pertarungan lintas ideologi politik yang ada di Turki. Meskipun demikian, rakyat Turki tidak terlalu terpengaruh dengan perbedaan ideologi yang ada. Bagi mereka, kepentingan dan cita-cita negara menjadi prioritas untuk diwujudkan, tak sekedar dalam wujud jargon-jargon politik saja.

Mengutip Taha Akyol, pengamat politik senior di Turki, Ia menyatakan bahwa salah satu ciri khas pemilihan 2018 adalah kekakuan ideologis lama telah banyak teratasi. Semua pihak lebih cenderung untuk merangkul populisme politik. Dan syukurnya, publik tidak mempertentangkan ihwal isu-isu sektoral seperti jilbab ataupun konsep İrtica (Islamic Reactionism) dan praktik sekularisme.

Sang petahana, Recep Tayyip Erdoğan masih terus memantapkan persiapan untuk meraih kemenangan. Pasca hasil referendum April 2017 yang menyetujui pengubahan sistem pemerintahan ke arah presidensial, Erdoğan dan partai pengusungnya, AKP (Adalet ve Kalkınma Partisi/ Partai Keadilan dan Pembangunan) terus memompa mesin partai agar tetap bekerja maksimal. Salah satu sasarannya adalah kantong-kantong suara anak muda (gençler) yang tersebar di 81 provinsi. Berdasarkan data statistik yang ada, total pemilih pemula dengan rentang usia antara 18-19 tahun yang akan ikut untuk pemilu 2018 sebanyak 1.078.000 orang. Sementara itu, jumlah pemilih nasional adalah 59.369.000 jiwa.

Beberapa hasil survei menunjukkan, popularitas Erdoğan masih lebih tinggi dari kandidat lainnya. Akan tetapi, pemilu kali ini akan menjadi ujian terberat bagi Partai AKP dan aliansinya. Sebab, partai oposisi CHP (Cumhuriyet Halk Partisi/ Partai Rakyat Republik) yang mengusung calon presiden Muharrem İnce kemungkinan akan menjadi sandungan terberat Erdoğan untuk mendulang suara mayoritas.

Tantangan Kursi Parlemen

Sejak dibentuk pada 14 Agustus 2001, prestasi AKP terbilang sangat cemerlang. Secara mengejutkan Erdoğan dan partainya berhasil meraih kemenangan dalam lima kali pemilu, tiga pemilu lokal, dan 3 kali referendum dan sekali untuk pemilu presiden pada 2002.

Akan tetapi, sejak helatan 2002, hasil pemilu 2015 adalah yang terburuk dalam perjalanan sejarah partai berlambang lampu pijar tersebut. Partai AKP hanya mampu meraih 258 kursi dari total 276 kursi yang dibutuhkan untuk menguasai parlemen.

Media terkemuka The Guardian memberikan analisis dan infografik yang menarik perihal situasi tersebut  . Salah satu catatan penting  merosotnya suara AKP adalah meroketnya raihan suara dari partai pro-Kurdi, HDP (Halkların Demokratik Partisi/People’s Democratic Party) yang mampu melampaui ambang batas 10% suara parlemen.

Untuk pertama kali dalam 16 tahun masa jabatannya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan berbicara tentang kemungkinan koalisi pemerintah setelah pemilu 24 Juni. Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi dan radio pada 20 Juni kemarin, Erdoğan mengungkapkan jika peluang partai AKP dan aliansinya saat ini tidak mampu meraup 300 dari total 600 kursi di parlemen (jumlah kursi yang diperlukan untuk dapat menyusun Undang-Undang), maka kemungkinan besar akan ada penjajakan koalisi.

Saat ini terdapat dua aliansi (İki İttifak), pertama adalah Aliansi Kerakyatan (Cumhur İttifakı) yang diusung oleh partai AKP bersama Partai MHP (Milliyetçi Hareket Partisi/Partai Gerakan Nasionalis) dengan calon presiden Erdoğan.

Sedangkan yang kedua adalah Aliansi Kebangsaan (Millet İttifakı) yang diusung oleh empat partai, CHP, Saadet Partisi (Felicity Party) yang berhaluan ideologi Islamis, İyi Parti (Good Party/Partai Baik), dan Partai Demokrat. Uniknya, tiga partai dari koalisi ini masing-masing memiliki calon presiden, kecuali partai Demokrat.

Devam, Tamam, Değiştir

Medium kampanye kini hadir dalam banyak varian, salah satunya adalah media sosial. Penggunaan Tagar (Tanda Pagar) dipercayai mampu mendulang suara, mengubah persepsi dan psikologis pemilih. Menjelang pemilu 24 Juni besok, fenomena perang Tagar pun tak terbendungi di Turki.

Partai AKP yang menguasai pemerintahan mengusung Tagar #Devam yang berarti ‘Lanjutkan’. Sekilas, rupanya diksi ini mirip dengan slogan yang pernah populer di Indonesia pada pemilu 2009 silam. Masih ingat??

Sementara itu, kelompok oposisi menggunakan terma #Tamam dalam Tagar kampanye politiknya. Secara literer, kata Tamam bermakna ‘Oke’. Namun, dalam konteks pemilu ini maknaya diidentikan dengan ‘Sudah, Cukup, atau Berakhir’.

Sedangkan Tagar ketiga yang dipopulerkan oleh Saadet Partisi  adalah, #Değiştir yang bermakna ‘Ganti’.

Sebagai penutup, saya ingin mengulas secara ringkas perihal program kerja yang ditawarkan khususnya oleh Erdoğan dan Muharrem İnce. Mengapa hanya dua kandidat saja? Karena, kompetitor terberat sang petahana adalah calon dari partai oposisi CHP.

Setahun atau dua tahun yang lalu, Erdoğan sangat sering melontarkan frasa Yeni Türkiye, Büyük, Güçlü Türkiye (Turki yang Baru, Turki yang Besar, Kuat). Dalam kesempatan pidato-pidato politiknya, Erdoğan selalu mengajak publik untuk membangun Turki menjadi negara yang besar, maju, dan sejahtera. Cita-cita tersebut merupakan penegasan untuk merayakan 100 tahun usia Republik pada 2023 mendatang.

Sedangkan İnce, lebih fokus pada restrukturisasi pemerintahan dan juga supremasi hukum yang berkeadilan sesuai dengan cita-cita pendirian Republik. Akan tetapi, ada satu hal menarik yang juga patut dicermati. Pasca mendulang suara parlemen yang sangat signifikan pada 2015 lalu, ketua partai CHP, Kemal Kılıçdaroğlu melontarkan rencana besar untuk pembangunan Turki dimasa depan. Ia menyebutnya ‘Merkez Türkiye (Central Turkey), konsep pembangunan Mega Kota baru yang menghubungkan perdagangan antara Eropa, Asia dan benua lainnya. Proyek ini diproyeksikan selesai pada tahun 2035.

Siapapun yang terpilih, adalah pilihan rakyat yang harus dihormati. Akhirnya, saya ingin mengutip salah satu pijakan dalam politik Turki yang sudah populer di sana, ‘Asla Asla Deme’ (Never Say Never/Jangan Pernah Bilang Tidak Pernah), semua usaha harus diikhtiarkan dengan maksimal. Jargon politik rasanya tidak cukup jika tak diimbangi dengan kerja nyata, program dan manifestasi untuk keadilan, kesejahteraan rakyat.

Bahwa, mungkin saja Erdoğan akan terpilih lagi sebagai presiden dan kehilangan kursi-kursi partai di parlemen. Atau mungkin akan ada sejarah, terpilihnya presiden baru di Turki?

Advertisements