Freedom Institute.jpg
(Perpustakaan Freedom Institute, Jakarta/Foto: Koleksi Pribadi)

Waktu merayap bersama rutinitas dan sekumpulan do’a dipengujung malam . Dan lajunya yang begitu cepat seolah membuat kita lupa, untuk sekedar merawat nalar dan ilmu pengetahuan lewat informasi yang kita serap dalam setiap wilayah-wilayah sosial kehidupan. Ya, semoga saja tidak!

Dalam tulisan kali ini, saya berusaha mengulas tentang manifestasi kegiatan sekaligus perintah ‘membaca/Iqra’ dalam perspektif sosiologis. Dan relasinya dengan konteks ilmu pengetahuan.

Perintah Membaca

Dalam Al-Qur’an, ayat yang pertama kali diturunkan adalah perintah untuk membaca, Iqra! Bacalah dengan (menyebut) Nama Rabb-mu yang menciptakan (QS. 96:1). Jika diperhatikan dengan saksama, ayat ini memiliki keistimewaaan pesan yang luar biasa, khususnya dalam lingkup untuk menggali khasanah keilmuan.

Perintah membaca, secara langsung memiliki relasi yang kuat dengan proses berpikir ketika hasil bacaan diperoleh.

Misalnya, untuk melakukan kerja-kerja akademik tentu diperlukan sikap disiplin, ketekunan, dan fokus terhadap topik yang dipilih. Sebelum sampai pada tahap menganalisis dan menarik kesimpulan, ada sebuah langkah besar nan sunyi yang harus dilakukan, yakni membaca.

Secara ideal, peran ilmu pengetahuan adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk meruntuhkan tembok kebodohan.

Konteks kebangsaan di Indonesia melalui pembukaan UUD 1945 juga menyelipkan sebuah pesan dan cita-cita yang mulia dengan hal di atas, “mencerdaskan kehidupan bangsa.” Oleh karena itu, sudah sepatutnya usaha untuk mencapai cita-cita pendidikan harus mampu dimanifestasikan dalam kerja dan praktik sosial yang lebih nyata. Bentuknya bisa dengan penguatan literasi, budaya membaca dan menulis. Baik di lingkungan keluarga maupun bermasyarakat.

Wadah berkumpul seperti di balai desa, surau, musala, masjid dapat dimaksimalkan untuk penguatan budaya literasi tersebut.

Sebagai makhluk sosial, manusia dibekali dengan kemampuan yang luar biasa. Menalar, merenung, bersosialiasi dan bertindak menurut kehendak yang diinginkan. Namun demikian, manusia juga memiliki atensi, tujuan, dan respon terhadap peristiwa yang dihadapi dalam kehidupannya sehari-hari. Atau dapat dikatakan bahwa sisi sosial dari keyakinan individu adalah bukti bahwa keyakinan tertentu memiliki konsekuensi-konsekuensi sosiental yang langsung dan spesifik.

Peter Berger, melalui karyanya ‘The Social Reality of Religion (1969)’ merumuskan bahwa, pada hakikatnya manusia adalah makhluk religius, mereka akan selalu terdorong untuk menciptakan dunia yang penuh makna (Bryan S, Turner, 2012).

Kemudian Menulis

Ketika berpartisipasi dalam kegiatan pelatihan menulis medio 2006 silam, ada satu ingatan yang masih membekas hingga saat ini. Dengan sedikit bercanda, seorang pemateri menyatakan bahwa jika ayat pertama yang diturunkan adalah perintah membaca, maka mungkin sebaiknya kelanjutan dari perintah itu adalah menulis.

Seringkas dengan memori tersebut, perlahan zaman bergerak hingga mencapai titik inovasi teknologi yang luar biasa. Saat ini, dunia digital dan internet memegang peranan penting dalam seluruh laku dan aspek kehidupan sosial. Meskipun demikian, kehadirannya pun tak lepas dari dampak buruk.

Sekitar dua tahun yang lalu, terma seperti Post-Truth secara resmi masuk dalam deretan diksi kamus bahasa Inggris milik Oxford. Sejurus kemudian ada peristiwa lain, merebaknya informasi palsu, false news, bahkan hoaks dalam kanal-kanal informasi yang kita konsumsi dan bertebaran di lini masa.

Salah satu medium yang bisa mengerus dampak buruk tersebut adalah mengampanyekan budaya literasi.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mendefinisikan kata Literasi ke dalam tiga hal. Pertama, kemampuan menulis dan membaca. Kedua, pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu. Ketiga, penggunaan huruf untuk merepresentasikan bunyi atau kata.

Para penulis dan penekun bidang literasi meniscayakan bahwa cara terbaik untuk belajar adalah dengan membaca.

Sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer adalah sosok yang sangat lekat dengan ketekunannya menulis. Ia merawat ingatan dengan mencurahkan energi dan kerja sunyinya lewat karya-karya sastra. Maka, tak mengherankan jika Pram menyatakan bahwa, ‘menulis adalah sebuah keberanian.’

Oleh karena itu, memadukan metode belajar dengan membaca dan menulis diharapkan mampu menciptakan generasi yang cerdas. Serta memiliki kemampuan bernalar untuk menemukan jawaban dalam labirin dan kuldesak ilmu pengetahuan.

Kerja Kolektif

Dalam melakasanakan kerja-kerja sosial, manusia tak lepas dari ketergantungan dengan manusia lainnya. Sebagai alternatif, inisiatif kerja kolektif dan membangun solidaritas harus mampu dilakukan melalui program-program yang berbasiskan kebutuhan bersama.

Kegiatan literasi, membaca dan menulis dapat diwujudkan dalam lingkungan sehari-hari. Situasi ini tentunya harus didukung dengan keterlibatan kita sebagai warga atau netizen, yang tak hanya sibuk dengan gawai digital dan silang pendapat yang tak memberikan nilai-nilai edukasi.

Secara sosiologis, orang lebih sering berinteraksi berdasarkan self-interests dan kerap mengabaikan public interest. Sehingga orang berada dalam hubungan-hubungan strategis untuk meraih suksesnya sendiri. Risiko disensus (ketidaksepakatan) pun juga semakin tinggi, dan platform bersama dari pengetahuan-latar belakang yang berasal dari kehidupan sosial semakin menyempit (F. Budi Hardiman, Demokrasi Deliberatif).

Mengutip Jurgen Habermas, proses diskursus dalam ilmu pengetahuan seharusnya bersifat inklusif, egaliter dan bebas-dominasi. Hal tersebut dapat ditempuh melalui tiga hal. Pertama, keikutsertaan di dalam sebuah diskursus hanya mungkin, jika orang menggunakan bahasa yang sama dan secara konsisten mematuhi aturan-aturan logis dan semantik dari bahasa tersebut.

Kedua, kesamaan dalam memperoleh kesempatan dalam diskursus hanya dapat terwujud, jika setiap peserta memiliki maksud untuk mencapai konsensus yang tidak memihak dan memandang para peserta lainnya sebagai pribadi-pribadi otonom yang tulus, bertanggungjawab, sejajar dan tidak menganggap mereka ini hanya sebagai sarana belaka. Ketiga, harus ada aturan-aturan yang dipatuhi secara umum yang mengamankan proses diskursus dari tekanan dan diskriminasi.

Akhirnya, perilaku belajar melalui membaca dan menulis harus termanifestasikan dengan baik agar mampu menciptakan ilmu pengetahuan yang bersifat universal.

Terkadang, ilmu berada di dalam akal pikiran, lisan, dan tulisan. Secara akal, lisan dan tulisan mengharuskan perolehan ilmu pengetahuan.

Oleh karena itu jika proses membaca telah giat dilakukan, nasihat Ibnu Katsir berikut ini sekiranya sangat relevan; ikatlah ilmu itu dengan tulisan.

Depok, 10 Juli 2018

 

Advertisements